Selasa, 01 Oktober 2013

Sejarah Kota Depok

Sumber : www.kemendagri.go.id

Sejarah Kota Depok dapat dibagi dalam beberapa fase, yaitu :

I. Depok pada Zaman Prasejarah

Bahwa penemuan – penemuan benda bersejarah di wilayah Kota Depok menunjukkan bahwa Depok telah berpenghuni sejak zaman prasejarah hal ini terlihat dengan adanya penemuan ahli sejarah, peninggalan – peninggalan benda bersejarah di Depok dan sekitarnya antara lain Menhir “ Gagang golok“, Punden berundak “Sumur Bandung“, Kapak Persegi dan Pahat Batu yang merupakan peninggalan zaman megalit serta Paji Batu dan sejenis Beliung Batu yang merupakn zaman peninggalan Neolit.

II. Depok pada Zaman Padjajaran

Pada akhir abad ke-15 Kerajaan Padjajaran diperintah oleh seorang raja yang diberi gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan yang lebih dikenal dengan gelar Prabu Siliwangi.

Disepanjang sungai Ciliwung terdapat beberapa kerajaan kecil yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Padjajaran diantaranya adalah Kerajaan Muaraberes. Ini sangat penting artinya pada zaman Padjajaran karena sampai Karadenan terbentang benteng yang sangat kuat sehingga mampu bertahan terhadap serangan pasukan Jayakarta yang di bantu oleh Demak, Cirebon dan Banten.

Depok berjarak ± 13 kilometer sebelah utara Muaraberes jadi wajar apabila Depok dijadikan front terdepan buat tentara Jayakarta pada waktu berperang dengan Padjajaran. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan :

1. Masih terdapatnya nama – nama Kampung/Desa yang menggunakan bahasa Sunda antara lain Parung Serang, Parung Belimbing , Parung Malela, Parung Bingung , Cisalak, Karang Anyar dan lain – lainnya.

2. Didesa Nangerang dan Kawung Pundak sampai sekarang masyarakatnya masih mengunakan bahasa sunda dalam pergaulan sehari – hari.

3. Dr. NJ Krom pernah menemukan cincin emas kuno peninggalan zaman Padjajaran di Nangela, cincin emas tersebut sekarang tersimpan di museum Jakarta.

4. Pada tahun 1709 Abraham Van Riebeeck telah menemukan sebuah benteng kuno peninggalan kerajaan Padjajaran di Karadenan.

5. Dirumah penduduk Kawung Pundak sampai sekarang masih ditemukan senjata - senjata kuno peninggalan zaman Padjajaran. Senjata – senjata ini mereka terima secara turun - temurun.


III. Depok Pada Zaman Islam

Pengaruh Islam di Depok diperkirakan ada sekitar tahun 1527 dan masuknya agama islam di Depok bersamaan dengan perlawanan Banten terhadap VOC yang pada waktu itu berkedudukan di Batavia. Hubungan Banten dan Cirebon setelah Jayakarta direbut VOC harus melalui jalan darat, sebagai jalan pintas yang terdekat yaitu melalui Depok . Karena itu tidaklah mengherankan kalau di Depok dan Sawangan banyak peninggalan – peninggalan tentara Banten. Hal ini terbukti dengan adanya peninggalan – peninggalan berupa :

1. Antara Perumnas Depok I dan Depok Utara terdapat tempat yang disebut Kramat Beji, disekitar tempat tersebut terdapat 7 buah sumur yang berdimeter ± 1 meter dan dibawah pohon beringin terdapat sebuah bangunan kecil yang selalu terkunci, didalam bangunan terdapat banyak sekali senjata kuno yaitu keris, tombak dan golok. Dari peninggalan tersebut dapatlah disimpulkan bahwa orang – orang yang tinggal di daerah tersebut bukanlah petani tetapi tentara pada jamannya. Menurut keterangan Kuncen Kramat Beji yang disampaikan secara turun – temurun bahwa di tempat ini sering diadakan pertemuan antara Banten dan Cirebon, jadi senjata tersebut merupakan peninggalan tentara Banten waktu melawan VOC dan ditempat semacam ini biasanya diadakan latihan bela diri dan pendidikan agama yuang sering disebut padepokan, jadi nama Depok kemungkinan besar dari Padepokan Beji.

2. Dikawung Pandak (Karadenan) terdapat masjid kuno, Masjid ini merupakan Masjid pertama di Bogor. Bentuk Masjid ini masih sesuai dengan bentuk aslinya walaupun telah beberapa kali direnovasi. Menurut keterangan pengurus masjid ini dibangun oleh Raden Safe’i cucu Pangeran Sangiang, Pangeran Sangiang ini dalam sejarah bergelar Prabu Surawisesa. Ia pernah menjadi Raja Mandala di Muararebes. Dirumah – rumah penduduk disekitar Masjid ini masih terdapat senjata – senjata peninggalan zaman Padjajaran, juga terdapat beberapa buah kujang. Jadi Masjid dibangun oleh tentara Padjajaran yang masuk Islam kurang lebih sekitar tahun 1550. Lokasi Masjid ini dengan Bojonggede hanya terhalang oleh sungai Ciliwung. Jadi pengaruh Islam masuk di Bojonggede sudah cukup lama.

3. Di Bojonggede terdapat makan Ratu Anti , nama sebenarnya Ratu Maemunah seorang prajurit Banten yang berjuang melawan tentara Padjajaran di Kedungjiwa. Setelah perang selesai suaminya (Raden Pakpak) menyebarakan agama Islam di Priangan sedangkan Ratu Anti sendiri menetap di Bojonggede sampai meninggal. Ratu Anti salah seorang yang menyebarkan agama Islam di Bojonggede.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.